Melihat Dunia Menjadi Sederhana dengan Berani Tidak Disukai
Identitas Buku
Judul Buku : Berani Tidak Disukai
Tebal : xxi +
323 halaman
Pengarang : Ichiro Kishimi & Fumitake Koga
Penerbit : PT
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019
Sinopsis
Buku ini mengemas percakapan panjang antara dua orang,
yaitu seorang pemuda yang selalu melihat bahwa dunia dipenuhi dengan kemuraman
dan selalu tidak pernah puas dengan kehidupannya, dan seorang filsuf yang
selalu melihat bahwa dunia ini sesungguhnya sangat sederhana.
Percakapan mereka ini dimasukkan ke dalam lima bab,
yang mana selajutnya bab-bab tersebut disebut sebagai malam pertama hingga
malam kelima. Masing-masing malam tersebut berisikan bagaimana Sang Filsuf
menerangkan kepada Sang Pemuda dengan konteks yang berbeda-beda. Sang Filsuf
selalu meyakinkan bahwa dunia tidak seperti yang dikatakan oleh Sang Pemuda
yaitu dunia yang hanya dipenuhi dengan diskriminasi, peperangan, perdebatan,
dan ketidaksetaraan. Bagi Sang Pemuda dunia yang sederhana hanya dapat dilihat
dari sudut pandang anak-anak yang belum melihat bagaimana dunia yang
sesungguhnya sebab mata mereka masih tertutup.
Selama percakapan malam-malam itu Sang Filsuf
memberikan kepercayaannya bahwa dunia ini sederhana dengan menggunakan teori
psikologi Adler. Alfred Adler atau yang dikenal dengan Adler adalah seorang
ahli kejiwaan dari Austria pada awal abad kedua puluh. Teori Adler juga
didukung dengan teori-teori yang dipakai oleh para filsuf Yunani seperti
Scorates, Plato dan Aristotales.
Menyangkal Keberadaan Trauma
Malam pertama adalah latar belakang dari malam-malam
selanjutnya, bab ini mengangkat kejadian-kejadian dan teori para filsuf yang
menjadi pondasi di buku ini. Menjabarkan bagaimana kita hidup bukan dari masa
lalu. Masa lalu tidak bisa mengubah seseorang, tapi tujuan yang kita bentuklah
yang menjadi poin pentinngya. Keberhasilan dan kegagalan kita tidak ditentukan
dari pengalaman, tetapi makna yang diberikan ke pengalaman itu yang
menentukannya. Sehingga, makna yang diberikan kepada masa lalu kita yang menentukan
kita saat ini. Kondisi itu dikategorikan ke dalam dua teori yaitu teori
aetologi (studi hubungan sebab dan akibat) dan teori teleologi (studi yang
mempelajari tujuan daripada penyebabnya). “Manusia digerakkan dengan tujuan
yang ditetapkannya, bukan pencetus di masa lalunya,” ujar Sang Filsuf.
Semua Persoalan adalah Tentang Hubungan Interpersonal
Seorang Adler pernah mengatakan, “Manusia bisa
menyingkirkan masalahnya hanya dengan menjalani kehidupannya seorang diri di
alam semesta ini.” Tapi sayangnya manusia tidak bisa melakukan hal tersebut.
Maka dari itu, Sang Filsuf melanjutkan pembicaraannya untuk membahas hubungan
interpersonal, perasaan inferior dan perasaan superior yang kadangkala menjadi
bagian yang bisa mengubah pola pikir manusia. Ada masanya manusia merasa
kekurangan di dirinya mempengaruhi hubungan interpesonalnya. Perasaan inferior
bisa saja mampu mengubah hubungan interpesonal manusia menjadi seperti
tersaingi, cemas, dan terkadang dendam. Maka Sang Filsuf dengan teori psikologi
Adlernya memberikan gambaran-gambaran kepada Sang Pemuda bahwa kita hanya perlu
terus melangkah maju tanpa merasa tersaingi dengan siapapun.
Menyisihkan Tugas-Tugas Orang Lain
Hidup manusia adakalanya memerlukan pengakuan dari
orang lain tetapi itu bukanlah hal yang mutlak harus didapatkan. Hal itu
disampaikan oleh Sang Filsuf kepada pemuda itu, ia juga mengatakan bahwa Adler
sangat tidak setuju dengan metode pendidikan reward and punishment,
“jika tidak ada yang memujiku maka aku tidak akan melakukan tindakan yang tepat,
dan jika aku tidak mendapatkan hukumanku aku juga akan terlibat tindakan yang
tidak tepat.” Dalam hal ini berarti tujuannya adalah mendapatkan pengakuan dari
orang lain, dan jika tidak mendapatkannya maka besar kemungkinan kita akan
geram. Mendapatkan pujian sama juga dengan memenuhi ekspetasi orang lain,
padahal kita hidup bukan untuk itu. Hidup harus dijalani dengan memilih jalan
terbaik yang diyakini oleh kita meskipun beresiko untuk tidak disukai banyak
orang.
Di manakah Pusat Dunia ini?
Umumnya, manusia merasa bahwa ia adalah pusat dari
dunia ini, sehingga menimbulkan ekspetasi bahwa orang-orang di sekitarnya akan
melakukan sesuatu untuk dirinya. Lalu, ketika ekspetasi itu tidak terwujud maka
akan muncul rasa kecewa dan sakit hati. Padahal pada kenyataannya, seorang
manusia adalah bagian dari masyarakat tetapi bukan pusatnya. Dari sana, kita
akan mengenal perasaan memiliki yaitu sesuatu yang diraih ketika seseorang
berkomitmen aktif terhadap masyarakat atas kemauannya sendiri bukan hanya sekedar
hadir saja. Berkomitmen di sini diartikan sebagai perasaan “apa yang bisa kita
berikan pada orang lain” bukan “apa yang orang lain bisa berikan kepadaku.”
Hidup dengan Sugguh-Sungguh di Sini Pada Saat Ini
Melalui teori psikologi Adler kita akan mengenal
istilah “kepasrahan positif” yaitu ketika manusia merasa tidak bisa mengubah
apa yang sudah ada di dirinya sejak lahir tetapi dengan kekuatan yang
dimilikinya dia mau berupaya mengubah caranya memanfaatkan hal-hal itu. Jadi,
manusia lebih baik berfokus kepada apa yang bisa diubah, dibandingkan kepada
apa yang tidak bisa diubah. Hiduplah dengan bersungguh-sungguh dengan segenap
hati, tariklah setiap momen yang ada di sini dan pada saat ini. Tidak perlu
melihat masa lalu, dan jangan melihat masa depan.
Kelebihan Buku
Desain dari buku yang bersegmentasi umum ini terkesan
sederhana dengan penulisan yang tersusun rapi. Dialog antara filsuf dan pemuda
tersusun berurut dari bab ke bab sehingga pembaca perlu membacanya secara
berurut. Banyak motivasi yang diselipkan di setiap dialog yang sangat sesuai
dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah untuk mengaplikasikannya.
Kekurangan Buku
Terdapat beberapa penggunaan kalimat yang sulit
dipahami sehingga diperlukan pengulangan baca pada dialog tersebut. Selain itu,
karena buku ini menggunakan naskah dialog maka terdapat beberapa dialog yang
terkesan bertele-tele.
Kesimpulan
Buku Berani Tidak Disukai karangan Ichiro Kishimi dan
Fumitake Koga adalah buku yang sangat membantu untuk memandang dunia menjadi
lebih sederhana dengan dibantu teori dari para filsuf-filsuf terkenal. Kita
akan mampu menemukan kebahagiaan kita sendiri saat kita mau menerima dan
mencintai terlebih dahulu diri sendiri dan juga mampu memberikan kontribusi
untuk lingkungan di sekitar kita. Jangan tanamkan untuk hidup memuaskan
ekspetasi orang lain, karena itu hanya akan membuat kita kehilangan keyakinan
pada diri sendiri.


Komentar
Posting Komentar